Filosofi Liyaban Kaum Tidung Menggambarkan Sebuah Kekompakan

Makna Liyaban dalam Bahasa Tidung sebuah alat tempat menampi beras atau gabah yang berbentuk lingkaran, menggambarkan sebuah kesatuan perjuangan bersama untuk mencapai suatu tujuan.

Dimana biasanya Liyaban ini digunakan oleh masyarakat kaum Tidung dimasa lalu setelah musim panen tiba untuk membersihkan hampa padi atau gabah yang sudah dipanen tersebut.

Liyaban terbuat dari anyaman bambu atau rotan, yang memang banyak tumbuh subur dihutan atau semak belukar yang ada di Kalimantan Utara.

Bambu ini tidak hanya bisa dibuat Liyaban saja, para petani kaum Tidung juga menggunakan bambu untuk bahan pondok atau huma disetiap ladang atau sawah mereka.

Puncak penggunaan bambu biasanya pada minggu kedua atau minggu ketiga masa panen padi dilaksanakan.

Karena biasanya kaum Tidung pada masa itu, harus membuat sarana tempat menggusal atau merontok kan padi dari tangkainya. Alat ini disebut gegikang yang dalam bahasa Indonesia artinya menggunakan tenaga berlebih saat menggusal padi tersbut.

Cara membuat gegikang ini juga perlu kecermatan, bambu yang ada dibelah dengan ukuran yang sama, diraut pinggiran bambu nya dengan pisau khusus agar tidak tajam, mengingat alat gegikang dinaiki oleh beberapa orang untuk aktifitas perontokan padi, ia juga berbentuk anyaman bambu yang dianyam dengan rotan serta berukuran minimal 4 x 4 meter, dibuat bertingkat agar padi atau gabah yang digusal jatuh terkumpul pada bagian bawah gegikang yang telah disiapkan khusus.

Untuk wadah tempat padi yang digusal biasa nya dihampar tikar lebar yang terbuat dari daun Nipah muda. Kaum Tidung menyebutnya dengan sebutan Ambi.

Tikar lebar dan besar dari daun Nipah ini juga manpaatnya serba guna, baik sebagai alas penutup rumah kaum Tidung pada masa itu, Ambi juga dipakai untuk menjemur padi bila ingin ditumbuk pada lesung kayu atau dalam bahasa Tidung disebut Tetuan, dengan menggunakan allu atau alat penumbuh khusus yang biasanya terbuat dari kayu besi.

Masih segar dalam ingatan penulis saat masih kanak-kanak dikampung halaman, biasany kaum perempuan Tidung menumbuk padi pada malam hari, apalagi saat bulan terang benderang suara Hantakan allu pada lesung atau tetuan tersebut menimbulkan irama dentang yang cukup asik untuk didengar.

Seiring dengan pergeseran jaman, alat Liayaban, Ambi maupun Gegikang serta Tetuan ini sudah jarang terlihat, karena para petani kebanyakan sudah menggunakan alat modern.

Kendati demikian peralatan itu masih saja digunakan oleh kaum Tidung yang masih bermukim jauh dari pusat kota yang ada di Kalimantan Utara yang pada tanggal 9 Desember nanti masyarakatnya akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati di 4 Kabupaten nya. *

Oleh : Sahri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!